Sumber Laporan

Pernyataan oleh SKP-Kame, Pusaka, dll dan kronologi yang ditulis oleh Sdr. Franky Samperante (FS). (17 Mei 2020)

Masalah

  1. Diduga pohon pisang yang ditanam oleh korban digusur oleh PT. TSE tanpa ada pemberitahuan sebelumnya yang sesuai prosedur.
  2. Ketika korban datang ke kantor TSE untuk protes penggusuran pohon pisang, diduga bahwa PT. TSE menggunakan kekerasan melalui oknum polisi.
  3. LSM yang mengeluarkan pernyataan menuntut pemerintah setempat untuk melakukan penyelidikan terkait tindakan kekerasan oleh TSE dengan menggunakan aparat tentara dan kepolisian, serta kepatuhan TSE terhadap peraturan perundang-undangan dan penghormatan hak-hak masyarakat adat.

Langkah yang ditempuh

  • Korindo mengumumkan Pernyataan Korindo Group pada 20 Mei 2020. Sebuah badan konsultatif multilateral yang terdiri dari Masyarakat, Pemda, LMA, LSM sedang dibentuk untuk melakukan penyelidikan yang adil, objektif, teliti, dan menyeluruh untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi dan mencegah kejadian serupa di masa depan.
  • Komisi Nasional Hak Asasi Manusia RI (Komnas HAM) Perwakilan Papua mengirimkan surat kepada PT. Tunas Sawa Erma tanggal 2 Juni 2020, perihal Mohon Klarifikasi dan kami menjawab surat tersebut pada 10 Juni 2020.

    Bahwa kami, setuju dan mempersilahkan Komnas HAM RI Perwakilan Papua, bukan saja terbatas meminta klarifikasi, tetapi sekaligus melakukan investigasi secara mendalam dan menyeluruh atas peristiwa kematian Sdr. Marius Tigamirop dengan melibatkan para pihak terkait untuk memberikan hasil yang adil, objektif, teliti, dan menyeluruh serta memberikan kesimpulan atas peristiwa tersebut.

    Selama proses investigasi dilaksanakan oleh Komnas HAM RI Perwakilan Papua, dan agar tidak mempengaruhi proses investigasi tersebut, maka rencana pembentukan Badan Konsultatif Multilateral sementara tidak dilanjutkan.

    Berdasarkan hasil investigasi dan rekomendasi Komnas HAM RI Perwakilan Papua, maka kami akan berdiskusi dengan para pihak terkait untuk mengambil langkah kedepan yang tepat.
  • Tim Komnas HAM RI – Perwakilan Papua melakukan kunjungan di Asike dari tanggal 29 Juni – 3 Juli 2020 dilanjutkan dengan melakukan Konferensi Pers tanggal 7 Juli 2020 di Kantor Komnas HAM Jayapura.

Hasil

  • Komnas HAM telah menyampaikan Surat No 027/3.5.6/VII/2020 tanggal 15 Juli 2020 Perihal Penyampaian Rekomendasi kepada Pimpinan PT. Tunas Sawa Erma yang berisi Laporan Hasil Pemantauan dan Rekomendasi Tindakan Kekerasan Oknum Anggota Polisi Terhadap Seorang Warga Sipil di Camp 19, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digeol.
  • Sebelumnya pada tanggal 7 Juli 2020 Komnas HAM RI – Perwakilan Papua juga telah menyelenggarakan Konferensi Pers di Jayapura dan dengan tegas menyatakan bahwa Komnas HAM Papua tidak menemukan keterlibatan langsung PT. Tunas Sawa Erma ke dalam hal dugaan pelanggaran HAM yang mengakibatkan meninggalnya Marius Betera (Marius Tigamirop).
  • Sesuai dengan rekomendasi dari Komnas HAM dan komitmen awal PT. Tunas Sawa Erma dan Korindo Group maka PT. Tunas Sawa Erma setuju untuk bekerjasama dengan Komnas HAM sebagai berikut (Statemen Korindo):
    1. Melakukan pertemuan antar stakeholder disekitar areal PT. Tunas Sawa Erma.
    2. Memberikan Pendidikan dan Pelatihan bagi karyawan perkebunan kelapa sawit milik Korindo Group di Papua.

Kami telah mengirimkan Surat tindak lanjut atas rekomendasi kepada Komnas HAM RI Perwakilan Papua.

  • Komnas HAM Papua telah menyampaikan Surat balasan tertanggal 1 September 2020 kepada PT. Tunas Sawa Erma yang berisikan bahwa Komnas HAM Perwakilan Papua sedang berkoordinasi dengan Pemda Merauke dan Boven Digoel untuk memfasilitasi pertemuan antar stakeholder serta Pelaksanaan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan.
  • Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Bisnis dan HAM telah dilaksanakan pada tanggal 14 – 17 Desember 2020 bertempat di Asike – Boven Digoel, yang diikuti oleh 131 orang staf di Korindo Grup Papua dengan 4 orang pembicara dari Komnas Ham RI Perwakilan Papua.